SELURUH KELAS 10

NAMA GURU : Vivi Ratnasari, S.Pd.

MATA PELAJARAN : Ekonomi

KELAS : SELURUH KELAS 10

PERTEMUAN : Ke- 1



Kesehatan mental atau yang juga dikenal dengan mental health adalah kondisi kesehatan yang berkaitan dengan kejiwaan, psikis, dan emosi seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki ketenangan jiwa dalam menjalani hidupnya berarti memiliki kondisi mental yang baik. 

Sebaliknya, seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu akan merasa kesulitan dalam mengendalikan emosinya bahkan dapat memengaruhi hubungannya dengan orang lain, kemampuannya dalam berpikir, atau bahkan memicu munculnya keinginan untuk melukai diri sendiri. Mari pahami lebih lanjut apa itu mental health melalui ulasan di bawah ini.


 Apa itu Kesehatan Mental (Mental Health)?

 Good mental health atau kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika kejiwaan dan pikiran dalam keadaan tenang dan damai. Kondisi ini memungkinkan seseorang untuk berpikir lebih jernih dan fokus saat beraktivitas. Sama halnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga penting untuk dijaga. 

Seseorang dengan kesehatan mental yang baik mampu mengoptimalkan potensi dirinya dalam menghadapi permasalahan hidup, tantangan, hingga menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. Sementara itu, kondisi mental yang terganggu dapat berdampak buruk terhadap emosi, suasana hati, dan kemampuan seseorang dalam berpikir.

Tanpa adanya penanganan yang tepat, kondisi mental yang terganggu dapat memicu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya memengaruhi kualitas hidup penderitanya, seperti menurunnya produktivitas di tempat kerja atau prestasi di sekolah hingga merusak hubungan sosial dengan orang lain.

Maka dari itu, setiap individu diimbau untuk mulai memelihara kesehatan mentalnya dan belajar mengenali gejala-gejala atau tanda dari gangguan mental sedari dini, tanpa berpikir bahwa gangguan kejiwaan merupakan suatu hal yang tabu atau aib untuk diperbincangkan.

Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan mental health terganggu, salah satunya yaitu trauma akibat peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu. Adapun beberapa penyebab munculnya gangguan mental health, yaitu:

1. Riwayat gangguan kesehatan jiwa dalam keluarga atau faktor genetik.

2. Tinggal di lingkungan perumahan yang tidak sehat.

3. Adanya riwayat kekerasan seksual, fisik, atau bentuk pelecehan lainnya.

4. Korban diskriminasi dan stigma.

5. Terasingkan atau terisolasi secara sosial atau merasa kesepian.

6. Stres berat dalam jangka waktu yang lama.

7. Cedera pada kepala.

8. Gangguan pada otak atau kelainan pada senyawa kimia di otak.

9. Mengalami kerugian besar dalam hal ekonomi, seperti mengalami kebangkrutan atau memiliki utang.

10. Kehilangan pekerjaan, pengangguran, atau tunawisma.

11. Kematian atau kehilangan orang yang sangat disayangi.

12. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau konsumsi alkohol secara berlebihan.

13. Memiliki trauma berat, seperti mengalami kecelakaan serius atau berada dalam situasi peperangan.


Gejala Gangguan Kesehatan Mental

Pasien dengan gangguan kesehatan mental dapat menunjukkan gejala yang berbeda-beda, tergantung dari jenis penyakit mental yang dideritanya. Namun, berikut adalah beberapa gejala umum yang dapat dialami oleh penderita dengan gangguan mental:

1. Sulit fokus dan berkonsentrasi.

2. Kesulitan dalam mengatasi stres atau masalah sehari-hari.

3. Mudah emosi secara berlebihan dan rentan melakukan kekerasan.

4. Suka berteriak atau berkelahi.

5. Sering berhalusinasi atau menjadi paranoid.

6. Menarik diri dari aktivitas sosial.

7. Kehilangan semangat dan minat untuk melakukan aktivitas yang awalnya disukai.

8. Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri (self harm) atau orang lain.

9. Munculnya pikiran untuk bunuh diri (suicidal thoughts).

10. Munculnya perubahan suasana hati secara tiba-tiba.

11. Perubahan kebiasaan atau pola makan, seperti tidak nafsu makan atau justru makan secara berlebihan.

12. Munculnya perasaan cemas, takut, khawatir, putus asa, dan sedih secara berlebihan.

13. Sering merasa lelah dan mengalami masalah tidur.

14. Perubahan gairah seks.

15. Rutinitas sehari-hari terganggu dan produktivitas atau prestasi menurun.

16. Sulit memahami kondisi orang lain.

17. Merasa kebingungan, mudah lupa, dan mudah tersinggung.

18. Hilangnya rasa percaya diri.


BULLYING

Bullying adalah tindakan agresif yang biasanya dilakukan seseorang untuk mengintimidasi atau mendominasi orang lain yang dinilai lebih lemah. Perilaku penyimpangan sosial ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah hingga lingkungan kerja.

Seseorang yang dianggap lemah sering kali menjadi target bully. Dalam kegiatan sehari-hari, orang yang di-bully akan merasa kesulitan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri. Lantas, apa yang membuat seseorang melakukan bullying dan bagaimana cara mencegahnya? Simak pembahasannya di bawah ini.


Apa itu Bullying?

 Menurut American Psychological Association, bullying adalah suatu bentuk tindakan agresif yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan berulang kali dengan tujuan untuk melukai atau mengakibatkan ketidaknyamanan pada orang lain. Bullying bisa dilakukan secara fisik, lisan, maupun cara lain yang lebih halus seperti memaksa atau memanipulasi.

Bullying adalah tindakan penindasan yang sering kali dilakukan secara berkelompok. Pada lingkungan sekolah, kelompok yang melakukan bullying cenderung merasa berkuasa dan menganggap anak lain lebih lemah dari mereka. Hal yang sama juga dapat ditemukan di lingkungan kerja dan sosial lainnya. Orang-orang dengan kekuasaan memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan penindasan.

Adapun beberapa contoh bullying yang sulit dideteksi adalah intimidasi, ancaman, dan pengucilan. Meski tidak meninggalkan bekas fisik, tindakan-tindakan bullying tersebut tetap berdampak negatif terhadap kesehatan mental korban.


Penyebab Bullying

Keinginan untuk melakukan bullying tidak muncul dengan sendirinya. Faktor penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga, sosial, maupun diri sendiri. Adapun beberapa penyebab seseorang melakukan bullying adalah sebagai berikut:

1. Melihat orang tua yang sering bertengkar.

2. Pola asuh orang tua yang tidak sehat (terlalu dibebaskan, terlalu keras, maupun kekurangan kasih sayang dan perhatian).

3. Pernah menjadi korban tindak kekerasan/bullying.

4. Memiliki rasa percaya diri yang rendah.

5. Sulit dalam bersosialisasi.

6. Cemburu dengan orang lain.

7. Ingin diterima dalam pergaulan.

8. Pengaruh dari orang-orang sekitarnya untuk ikut melakukan bullying.

9. Pengaruh dari game atau tontonan yang tidak sesuai dengan usianya.


Merasa lebih baik dengan menggunakan kekuatan fisik untuk melampiaskan amarah atau balas dendam.


Selalu ingin mendominasi dan berkuasa atas orang lain.


Tidak bisa mengontrol diri.


 


Jenis-Jenis Bullying

 


Terdapat beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak maupun orang dewasa, yaitu:


 


1. Bullying secara Fisik

 


Bullying yang dilakukan secara fisik biasanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuh, seperti memar. Adapun beberapa contoh tindakan bullying yang dilakukan secara fisik adalah memukul, menendang, menjegal, mencubit, atau mendorong seseorang.


 


Selain melukai tubuh seseorang, perusakan barang berharga juga termasuk jenis bullying fisik yang dilakukan secara tidak langsung. Sebagai contoh, merusak mobil atau mencoret-coret tembok rumah seseorang untuk melampiaskan rasa kesal.


 


2. Bullying secara Lisan (Verbal)

 


Tindakan bullying juga bisa dilakukan secara lisan, seperti menghina, mengejek, dan mengolok orang lain. Meskipun tidak meninggalkan luka yang terlihat secara fisik, bullying secara lisan ini merupakan jenis pelecehan yang ditargetkan (targeted harassment) yang pada akhirnya dapat berujung pada tindakan kekerasan fisik.


 


Bagi sebagian orang, bullying verbal dinilai lebih berbahaya dari bullying fisik karena tipe bullying ini dapat menghancurkan harga diri dan citra diri korban. Kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuk korban bisa membekas di hati dalam waktu yang lama dan memengaruhi kesehatan jiwaannya.


 


3. Bullying secara Sosial

 


Bullying yang dilakukan secara sosial biasanya tidak mudah dideteksi. Maka dari itu, jenis bullying ini sering dikenal sebagai penindasan terselubung (covert bullying). Tujuannya adalah untuk merusak reputasi seseorang dalam lingkungan sosial. Adapun contoh-contoh bullying secara sosial adalah:


 


Menyebarkan kebohongan atau gosip tentang seseorang.


Melontarkan lelucon untuk mempermalukan dan menghina orang lain.


Mendorong orang lain di sekitar untuk mengucilkan seseorang.


Tatapan sinis yang ditujukan untuk mengintimidasi secara halus.


 


4. Bullying di Internet (Cyberbullying)

 


Cyberbullying adalah bentuk tindakan agresif yang ditujukan kepada seseorang melalui teknologi digital. Umumnya, cyberbullying terjadi di media sosial, game online, dan platform lain yang menyediakan kolom interaksi. Bullying di sini tidak dilakukan dengan tatap muka, melainkan secara virtual atau online. Adapun contoh dari cyberbullying adalah:


 


Mengirimkan teks, email, gambar, atau video yang isinya mengejek, mengancam, bernada kasar, berbau seksual, dan agresif.


Mengucilkan seseorang dalam lingkup pertemanan online dengan sengaja.


Menyebarkan kebohongan atau aib tentang seseorang di media sosial.


Meniru orang lain dengan menggunakan foto dan informasi pribadi mereka.


Mengunggah klip pribadi tanpa consent dengan tujuan mempermalukan seseorang, seperti revenge porn.


 


Cara Mengatasi Bullying

 


Orang tua perlu mengambil peran aktif untuk mengatasi tanda-tanda perlakuan bullying yang ada pada anak. Beberapa cara untuk menangani anak yang terindikasi melakukan bullying adalah:


 


1. Lebih Dekat dengan Anak

 


Pola asuh orang tua memiliki peran penting di sini dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan emosional anak. Mulailah mendekati anak dan cobalah membangun hubungan komunikasi yang lebih baik. Hal ini juga akan mendorong anak untuk mau menjadi lebih terbuka, sehingga orang tua dapat mengidentifikasi sumber masalah yang berujung pada tindakan bullying.


 


2. Mengajari Anak Cara Mengendalikan Stres

 


Apabila tindakan bullying yang dilakukan anak merupakan cara mereka untuk melampiaskan stres, maka orang tua perlu mengajari anak cara mengendalikan stres dengan mencari dan melakukan kegiatan positif. Adapun kegiatan-kegiatan aktif, seperti berolahraga, menghabiskan waktu di alam, atau bermain dengan hewan, dapat menjadi pilihan untuk membantu anak mengendalikan stres.


 


3. Mengawasi Penggunaan Gawai pada Anak

 


Screen time pada anak perlu dibatasi agar ia tidak menggunakan gawai terlalu lama. Hal ini berguna untuk mencegah si kecil menonton konten-konten berbahaya atau tidak sesuai usia yang dapat memicu dirinya melakukan tindakan bullying. Untuk mempermudah pengawasan konten-konten yang dikonsumsi anak, sebaiknya orang tua mengaktifkan fitur filter konten yang tersedia di aplikasi terkait.


 


4. Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

 


Apabila anak menunjukkan tanda-tanda melakukan bullying, orang tua perlu turun tangan dan mendisiplinkan anak dengan segera. Namun, hindari cara mendisiplinkan anak dengan kekerasan. 


 


Orang tua dapat mendisiplinkan anak melalui cara-cara yang positif seperti membiasakan anak dengan keteraturan dan rutinitas, menjelaskan kepada anak mengenai konsekuensi dari kesalahan yang dibuat, atau memberikan pujian atas perilaku baik anak.


 


Cara Mencegah Bullying

 


Untuk mencegah terjadinya bullying yang dilakukan oleh atau kepada anak, orang tua dapat menerapkan hal-hal berikut:


 


1. Mengajari Anak tentang Bullying

 


Anak perlu mengetahui bahwa bullying atau menindas orang lain adalah hal yang tidak baik. Berikan contoh bahwa memukul teman atau menghina orang lain sebagai lelucon adalah hal yang tidak baik dan tidak terhormat, serta dapat menimbulkan trauma bagi para korbannya. Dengan begitu, anak dapat mengerti dan tidak melakukan tindakan agresif kepada orang lain.


 


2. Membangun Rasa Percaya Diri pada Anak

 


Bullying bisa terjadi karena rasa percaya diri yang rendah. Untuk itu, cobalah bangun rasa percaya diri anak dengan mendorongnya melakukan hal-hal yang positif dan disukai di sekolah. Sebagai contoh, dukung anak untuk mengembangkan kemampuan musiknya dengan mengikuti klub musik di sekolahnya.


 


3. Menjadi Contoh yang Baik kepada Anak

 


Orang tua perlu memberikan contoh yang baik kepada anak. Oleh karena itu, sikap baik dan rasa hormat perlu ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana seperti menyapa tetangga ketika berpapasan atau menolong orang bisa menanamkan nilai kebaikan dan empati pada anak.


 


Sekian pembahasan tentang bullying yang penting untuk diketahui. Apabila anak atau orang terdekat Anda merupakan pelaku atau korban bullying, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh penanganan yang tepat.



Apabila tidak bisa hadir secara langsung, Anda pun bisa melakukan konsultasi jarak jauh dengan fitur Telekonsultasi yang dapat ditemukan di aplikasi MySiloam. Tak usah ragu, karena Anda dapat mengunduh aplikasi MySiloam secara gratis dan mudah. Mari download aplikasinya dan percayakan kesehatan mental Anda serta keluarga #BersamaSiloam!


Artikel ini dibuat dan diterbitkan oleh Siloam Hospitals, baca selengkapnya di: *https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-bullying*


Dapatkan informasi atau layanan kesehatan terkini Siloam Hospitals di:

*Instagram*: https://instagram.com/siloamhospitals/

*Contact Center*: (021)1-500-181

*Siloam-At-Home*: https://wa.me/628111950181


Download aplikasi MySiloam untuk kemudahan pelayanan kesehatan Anda:

*IOS*: https://apple.co/3PYwuZK

*Android*: https://bit.ly/SiloamPS

 



Komentar

Postingan Populer